Implementasi Pendidikan Inklusif dalam Pembelajaran IPAS Materi Keragaman Budaya di Kelas IV Sekolah Dasar Study Tentang Problematika dan Upaya Pemecahannya
DOI:
https://doi.org/10.31004/irje.v6i3.4372Keywords:
IPAS, Pendidikan Inklusif, Sosiodrama, Anak Berkebutuhan Khusus, Literasi Sains Dan SosialAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan inklusif dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar, khususnya pada materi keragaman budaya. Subjek penelitian terdiri dari 25 siswa kelas IV SD Negeri 10 Lawang Kidul, dengan kategori ADHD, lambat belajar, disleksia, disgrafia, dan siswa reguler. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan triangulasi data melalui observasi, wawancara, dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak disleksia terbantu dengan pendekatan multisensory berbasis visual dan audio, anak lambat belajar lebih aktif melalui scaffolding dan pengulangan instruksi, sedangkan anak ADHD lebih terarah dengan manajemen perilaku berupa aktivitas fisik singkat, token economy, serta aturan kerja kelompok. Data angket respon siswa memperlihatkan bahwa 76% siswa lebih tertarik dengan metode sosiodrama dan 80% mendukung pembelajaran inklusif karena memungkinkan teman berkebutuhan khusus berpartisipasi aktif. Kesimpulannya, pembelajaran IPAS berbasis inklusif dengan strategi sosiodrama, cooperative learning, dan pendekatan individual terbukti meningkatkan keterlibatan, kepercayaan diri, serta hasil belajar siswa, sehingga relevan untuk memperkuat literasi IPAS di sekolah dasar.
References
Barkley, R. A. (1997). Behavioral inhibition, sustained attention, and executive functions: Constructing a unifying theory of ADHD. Psychological Bulletin, 121(1), 65–94.
Dewi, T. S., Permatasari, S., & Dzuriansyah, D. (2025). Optimalisasi pendidikan inklusi menuju masa depan SD berkualitas. SHEs Conference Series, Universitas Sebelas Maret.
Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M. (2006). Exceptional learners: Introduction to special education. Boston: Allyn & Bacon.
Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (1999). Learning together and alone: Cooperative, competitive, and individualistic learning. Boston: Allyn & Bacon.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
OECD. (2023). PISA 2022 results. Paris: OECD Publishing.
Pertiwi, E. P., Ali, A. Z., & Budiyanto, B. (2024). Filosofi dan prinsip dasar pendidikan inklusi. Universitas Negeri Surabaya.
Putri, A., Santoso, B., & Nugroho, D. (2025). Manajemen perilaku berbasis aturan kelompok untuk anak ADHD. Jurnal Psikologi Pendidikan.
Rahmawati, R., & Witasoka, S. (2025). Sosiodrama berbasis kolaborasi dalam pembelajaran inklusif. Jurnal Pendidikan Dasar.
Snowling, M. J. (2000). Dyslexia. Oxford: Blackwell.
Sugih, S. N., Maula, L. H., & Nurmeta, I. K. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata.
Supena, A., & Dewi, N. (2021). Pendekatan multisensory dalam pembelajaran anak disleksia. Jurnal Pendidikan Khusus.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nopayani, Mega Kusuma Putri, Hetilaniar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









