Perubahan Kesenian Dikiu Gabano dari Musik Prosesi Ke Panggung Pertunjukan
DOI:
https://doi.org/10.31004/irje.v5i5.3351Keywords:
Kesenian Dikiu Gabano, Perubahan, KamparAbstract
Kesenian Dikiu Gabano adalah salah satu kesenian tradisional masyarakat Kampar yang berpijak pada norma-norma agama yang melantunkan syair berbahasa arab. Syair kesenian Dikiu Gabano di ambil dari kitab al-barzanji yang di tulis oleh Sayyid Ja’far Ibn Husain Ibn Abdul Karim Ibn Muhammad Ibn Rasul Al-Barzanji yang berisikan tentang kisah dan puji-pujian terhadap rasulullah Muhammad saw dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan agar umat Islam meneladani kepribadiannya. Nama al-barzanji diambil dari nama pengarang yang juga merupakan nama tempat asalnya yakni daerah Barzanji (Kurdistan). Seiring perkembangan zaman kesenian Dikiu Gabano yang pada awalnya adalah sebagai prosesi adat dan budaya Kampar mengalami perubahan fungsi dan bentuk dari ritual budaya menuju panggung pertunjukan. Tulisan ini bertujuan mengkaji faktor-faktor yang melatar belakangi perubahan tersebut. Untuk memfokuskan tulisan ini, peneliti merumuskan beberapa pertanyaan yaitu: 1) bagaimana peran kesenian Dikiu Gabano pada masyarakat Kampar. 2) bagaimana proses perubahan kesenian Dikiu Gabano pada masyarakat kabupaten Kampar. Era modernisasi ini kesenian Dikiu Gabano mengalami perubahan, yakni dalam bentuk fungsi dan nilai, yang sebelumnya memiliki nilai kesakralan dan digunakan dalam penyiaran agama islam, kemudian menjadi sajian yang digunakan dalam kebudayaan tradisi daerah yang lebih mengutamakan nilai estetis dari pada nilai keagamaan.
References
Ahmad Fauzan. (2016). Pergeseran peran ninik mamak di bidang kesenian (Calempong, Badikiu, Albarzanji) di Desa Binamang Kec. XIII Koto Kampar Kab. Kampar. JOM FISIP, 3(2), 1–15.
Andri Satria, & Fitriani, E. (2021). Eksistensi Badikia di Nan Limo Hilia. View of Eksistensi Badikia di Nan Limo Hilia. Universitas Negeri Padang. Retrieved from https://unp.ac.id
Arifninetrirosa, H. D., & Dewi, H. (n.d.). Dikia Rabano identitas budaya Islami pada masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat. Retrieved from http://www.magisterseniusu.com/uploads/1/8/0/0/1800340/arifni-netrirosa.pdf
Damhuri. (2017). Persepsi masyarakat terhadap kesenian Gubano Badikiu di Desa Parit Baru Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar. JOM FISIP, 4(2), 1–12. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/201189-persepsi-masyarakat-terhadap-kesenian-gu.pdf
Dwi Afifah, S., Elina, M., & Jonni. (2018). Dikiu dan Maarak Bungo Lamang Kanagarian Luak Kapau Kabupaten Solok Selatan. Laga-Laga, 4(2), 1–12. https://doi.org/10.26887/lg.v4i2.489
Moleong, L. J. (2007). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Muhammad Iqbal, & Jalius. (2019). Implementation of Dikia Rabano learning activities as education activities for adults in Jorong Bangko Solok Selatan. Spektrum: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah (PLS), 7(1), 1–10.
Sillaturrahmi. (2017). Dikia Kubano dalam upacara baralek kawin di Kenagarian Pangkalan Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota. Jurnal Seni Pertunjukan, 1(1), 1–85. ISSN: 2597-9000.
Sriwulan, W. (2020). Salawaik Dulang: Perubahan dan kontinuitas. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Mukhlis, Wilma Sriwulan, Novesar Jamaru

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









